Logo SantriDigital

Kematian

Ceramah
B
Bistami
8 Mei 2026 4 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قال الله تَعَالَى: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران: 185) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para ustadz dan ustadzah, tokoh masyarakat yang saya hormati, serta seluruh hadirin kaum muslimin wal muslimat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang insya Allah senantiasa dirahmati oleh Allah SWT. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kehadirat Allah SWT. Pada kesempatan yang berbahagia ini, di majelis yang mulia ini, kita bisa berkumpul dalam satu wadah, dalam satu niat, untuk sama-sama menimba ilmu dan menguatkan keimanan. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh hadirin yang telah berhadir. Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, pada malam (atau pagi/siang ini) saya ingin mengajak kita semua, termasuk diri saya pribadi, untuk merenungi satu hakikat kehidupan yang pasti akan kita hadapi. Sebuah garis akhir yang tidak bisa dihindari, sebuah perpisahan yang paling hakiki. Tema kita adalah tentang KEMATIAN. Kematian, sebuah kata yang seringkali membuat bulu kuduk merinding. Sebuah kenyataan yang sekeras batu, namun seringkali kita lupakan. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 156: "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'." (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada Allah kami akan kembali). Ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai, ucapan itu terucap dari lisan kita. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna di baliknya? Bahwa kita pun suatu saat akan menyusul mereka, kembali kepada Allah Yang Maha Pencipta. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Cukurlah kematian sebagai nasihat." (Hadis riwayat Ibnu Majah dan An-Nasa'i, dishahihkan oleh Al-Albani). Nasihat yang paling jujur dari dunia ini adalah kematian. Ia memberitahu kita bahwa segala kenikmatan duniawi itu fana, segala kemegahan hidup ini sementara. Harta, tahta, jabatan, keluarga terkasih, semua akan terpisah di alam kubur. Pernahkah Bapak-ibu membayangkan, ketika malaikat maut menjemput? Di saat ruh kita dicabut dari jasad, saat itulah kesadaran penuh datang. Kesadaran bahwa selama ini kita hidup dalam kelalaian yang luar biasa. Di dunia kita begitu sibuk mengejar dunia, lupa bahwa bekal untuk akhirat begitu sedikit. Lihatlah di sekitar kita. Tetangga kita, teman kita, mungkin kerabat kita, kemarin masih tertawa, masih bercanda, masih beraktivitas. Hari ini, jasadnya terbujur kaku, ditutup kain kafan, siap untuk diantar ke peristirahatannya yang terakhir. Betapa cepatnya pergantian itu, Bapak-ibu. Ibarat sebuah mimpi yang panjang, lalu tiba-tiba terbangun. Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan yang lebih panjang. Perjalanan di alam kubur, penantian hari kiamat, hingga akhirnya pertanggungjawaban di Yaumil Hisab. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 99-100: حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Sehingga apabila telah datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia pun berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.) Penyesalan di saat itu tidak ada gunanya. Perkataan "ya Tuhanku, kembalikanlah aku" tidak akan dijawab. Apa yang kita tinggalkan di dunia, selama itu adalah kebaikan, itu yang akan kita temui. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan kita. Oleh karena itu, Bapak-ibu sekalian, mari kita renungkan kembali hidup kita. Apakah selama ini kita sudah mempersiapkan bekal yang cukup? Apakah setiap detik yang kita jalani adalah pengabdian kepada Allah SWT? Kematian ini adalah cambuk bagi kita. Cambuk untuk segera sadar, segera bertaubat, segera berbenah diri. Jangan tunda-tunda amal kebaikan. Jangan tunda-tunda berbakti kepada orang tua. Jangan tunda-tunda meminta maaf. Mari kita hidup hari ini seolah-olah kita akan mati besok. Siapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Tingkatkan ibadah kita. Perbaiki akhlak kita. Sebarkan kebaikan di lingkungan kita. Semoga Allah SWT menggolongkan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengingat kematian, mempersiapkan diri dengan amal saleh, dan husnul khatimah. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kematian yang husnul khatimah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari siksa kubur dan siksa neraka. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →